From the community
Create a 15-second vertical 9:16 animated literary short inspired by the plot of Machado de Assis's The Alienist. Do not reveal or display the title, author's name, or book cover. Visual style: original hand-drawn ink illustrations, delicate imperfect black pen lines, subtle watercolor, ivory paper background, minimal composition, poetic 19th-century storybook atmosphere reminiscent of classic French illustrated novellas. No realism, no 3D, no anime. Scene 1 (0-4s): a quiet 19th-century Brazilian town is sketched onto blank paper; an eccentric physician observes the inhabitants. Scene 2 (4-8s): the physician studies people and circles their peculiar habits in a notebook. Scene 3 (8-12s): townspeople gradually appear behind the gates of an asylum; the gates close gently. Scene 4 (12-15s): the physician looks into a mirror; his reflected silhouette becomes a question mark. Smooth transitions as ink drawings unfolding on paper, subtle hand-drawn animation, restrained movement, sophisticated literary mood, instrumental soundtrack, no dialogue, no embedded captions or text.
кліп на пісню
Phân cảnh 1: Lời mở đầu – Khơi dậy niềm vui được sống Prompt: A cinematic, emotional close-up shot of a stylized animated character looking up at the sky with a bittersweet but hopeful smile. Microscopic glowing heart fragments gently float in the air around them, symbolizing a healing heart. Soft, warm golden hour sunlight, aesthetic animation style, 4k resolution, smooth camera zoom-in.
женские красивые руки, аккуратно лепят идеальные хинкали на красивой кухне, потом аккуратно забрасывает из в кипящую воду помешивая и потом достает из надкалывает от туда красиво выливается горячий бульон с паром
я хочу щоб у відео були я з чоловіком я тобі відправлю фото і ми ніби сімʼя мафіозі дуже пафосно сідаємо у авто тойоту крузака і пафосно їдемо
love story
Ari sudah memasuki kelas 3 SMA dan sebentar lagi akan melanjutkan kuliah. Suatu sore, Ari berbincang-bincang dengan ayah, ibu, dan neneknya di ruang tamu. Mereka menanyakan keputusan Ari untuk memilih jurusan kuliah. Baik sang ayah dan ibu Ari ternyata memiliki pilihan jurusan masing-masing dan tak mau memperhatikan keinginan Ari pribadi. Ayah: “Jadi, sudah kamu pikirkan masak-masak kamu mau melanjutkan kuliah di jurusan apa?” Ari: “Sudah, Yah.” Ibu: “Jadi, kamu mau kuliah jurusan apa, Nak?” (datang ke ruang tamu sambil menghidangkan teh untuk ayah dan nenek Ari). Ari: “Ari inginnya kuliah jurusan seni.” Ayah: “Apa? Kamu ingin kuliah seni? Mau jadi apa nanti kamu setelah lulus kuliah?” Ibu: “Iya, kamu mau kerja apa setelah lulus nanti? Kuliah itu jangan cuma cari senangnya saja. Perhatikan juga masa depan kamu nantinya.” Nenek: “Kenapa kok Ari ingin kuliah jurusan seni?” Ari: “Ari ingin mengembangkan bakat Ari jadi pelukis, Nek.” Ibu: “Itu kan bisa kamu lakukan tanpa harus kuliah. Kamu bisa sering melukis sambil kuliah jurusan yang lain” (menampakan wajah kesal). Ayah: “Benar kata ibu kamu. Dengarkan itu Ari! Ayah tak mau membiayai kuliah kamu jika kamu memilih jurusan seni. Ayah maunya kamu kuliah jurusan ekonomi.” Ari: “Tapi, Yah?…” Ibu: (memotong kata-kata Ari) “Sudah, Ibu juga maunya kamu nanti setelah kuliah bisa bekerja di kantor. Lihat sekarang ini, mana ada pelukis yang hidupnya sejahtera?” Nenek: “Ayah dan Ibu kamu memang ada benarnya Ari. Pikirkan lagi masak-masak. Jangan sampai kamu menyesal. Soal bakat, kamu bisa mengasahnya di luar jurusan kuliah.” Ayah: “Nah, itu dia. Nanti kan kamu bisa ikut kegiatan kampus yang bertema seni.” Ari: “Baik ayah, akan Ari pikirkan lagi nanti” (menunduk lesu sambil merenung).
キリンの動画を作って